Renovasi Zamzam: Tidak Boleh Tawaf Di Sekitar Ka'bah Kecuali Yang Berpakaian Ihram

Renovasi Zamzam: Tidak Boleh Tawaf Di Sekitar Ka'bah Kecuali Yang Berpakaian Ihram

Bagi anda yang melaksanakan ibadah Umrah di bulan nopember 2017 hingga 2018 maka akan melihat pemandangan yang tidak biasa di Masjidil Haram. Pada saat itu area tawaf untuk jemaah menjadi lebih sempit.

Hanya sebagian orang saja yang diperbolehkan memasuki gerbang khusus tawaf, sedangkan yang lainnya dipersilahkan masuk dari gerbang lain.

Termasuk saya dan rombongan Umrah dari MQ Travel yang datang ke Masjidil Haram pada 27 nopember 2017. Khusus untuk jemaah laki-laki yang berpakaian Ihram saja yang diperbolehkan masuk lewat gerbang khusus tawaf, sementara untuk jemaah perempuan asalkan berpakaian menutup aurat tidak dibatasi.

Setelah memasuki area tawaf yang dekat ke Ka'bah barulah diketahui, penyebab dari dibatasinya jema'ah umrah yang akan tawaf. ternyata di belakang Makom Ibrahim, tepatnya di sumur Zamzam sedang ada renovasi atau perbaikan, sehingga beberapa area tawaf diberi pembatas.

Dikutip dari liputan6.com, renovasi itu akan berlangsung selama tujuh bulan dan terbagi menjadi dua fase. Rencananya akan selesai sebelum Ramadhan tahun ini.

Fase pertama renovasi adalah membangun lima saluran perlintasan untuk Sumur Zamzam di wilayah timur. Perlintasan itu memiliki ukuran lebar 8 meter dan panjang 120 meter.

Sementara fase kedua renovasi adalah sterilisasi area di sekitar Sumur Zamzam. Sterilisasi dilakukan dengan membersihkan puing beton dan besi yang berjatuhan dari struktur bangunan Masjidil Haram.

Selain itu, sterilisasi juga dilakukan dengan memasang gipsum untuk menjamin aliran air yang stabil.

Namun demikian, renovasi Zamzam tersebut tidak menggangu kegiatan ibadah para jemaah. Untuk jemaah laki-laki yang tidak berpakain Ihram masih diperbolehkan tawaf di area lainya, yakni di sisi paling luar lantai satu, lantai 2, lantai 3 hingga lantai empat. untuk lebih jelasnya silahkan ditonton Videonya di bawah ini.
Read More
Hari Pertama Di Kota Mekah, Menginap di Hotel Al Shohada

Hari Pertama Di Kota Mekah, Menginap di Hotel Al Shohada

Setelah melakukan Miqat di Masjid Bir Ali,  Minggu 26 Nopember 2017 rombongan umrah MQ Travel melanjutkan perjalanan menuju Kota Mekah untuk melaksanakan tahapan-tahapan ibadah Umrah.

Setelah melakukan perjalanan sekitar 6 jam dari Madinah, alhamdulillah kamipun sampai di Kota Mekah sekitar pukul 21.00 waktu Mekah. Begitu tiba di Mekah, rombongan masuk ke hotel Al Shohada yang beralamat di Ajiyad Street, Ajyad, Makkah 24231, Arab Saudi.

Saat kami sampai, kondisi di hotel begitu sepi, setelah mendapat kunci kamar kami bergegas menuju lift. Berbeda dengan hotel-hotel di Madinah, hotel di mekah ini ukuran Liftnya lumayan besar bisa yang bisa menampung lebih dari 20 orang.

Selain ukurannya besar, lift di hotel bintang lima ini juga jumlahnya banyak dan ada beberapa tempat. Jadi tidak kuatir mengantri saat akan menggunakan lift.

Kondisi kamarpun begitu mewah. Di dalam sudah tersedia sejumlah tempat tidur lengkap dengan bantal, guling, serta selimut yang begitu tebal. Suhu ruangan begitu dingin akibat aktifnya AC dalam suhu yang rendah.
Di atas meja sudah tersedia aneka buah-buahan yang terdiri dari jeruk, pisang, apel, anggur dalam kondisi tertutup plastik rapi siap disantap. Di sisi kamar terdapat lemari yang sangat besar, terdiri dari tiga pintu lengkap dengan gantungan (hanger) pakaian.

Kamar mandi disini begitu luas, berhadapan dengan pintu kamar mandi terdapat wastafel besar yang sudah bersisi sabun, shampo, pasta gigi, sikat gigi. di dinding kamar mandi sudah tersedia handuk putih sejumlah orang yang menginap. Tempat mandipun terpisah lengkap dengan shower dengan aliran air yang dapat diatur dari dingin hingga panas.

Untuk BAK dan BAB disediakan tempat terpisah yang masing-masing dilengkapi pembilas air otomatis.

Setelah menyimpan koper di kamar, sekitar pukul 22.00 kami menuju ruang makan. Alhamdulillah begitu nikmat rizki yang Allah berikan malam itu. Tak lama berselang setelah makan malam, rombongan siap-siap menuju lobi hotel untuk melakukan Ibadah Umrah menuju Masjidil haram.
Read More
Masjid Bir Ali - Tempat Miqat Umrah Favorit Dari Madinah

Masjid Bir Ali - Tempat Miqat Umrah Favorit Dari Madinah

Masjid Bir Ali
Masjid Bir Ali Adalah tempat yang kami kunjungi pada 26 Nopember 2018 sebelum melaksanakan rangka rangkaian ibadah Umrah. Para jemaah Haji dan Umrah yang telah melakukan wisata Religi di Madinah biasanya akan melakukan Miqat di Bir Ali. Di sini mereka melaksanakan shalat sunnah irham dua rakaat dan mengambil niat ihram, selanjutnya Akan berangkat menuju mekah untuk melakukan kegiatan rukun Umrah atau Haji di Kota Mekah. Setidaknya butuh waktu 4-6 jam dengan menggunakan bus untuk tiba di Mekkah sebab jarak Masjid Bir Ali dan Mekkah adalah sekitar 450 kilometer.

Kata Bir Ali berasal dari kata bir yang berarti sumur dalam hitungan jamak dan Ali sebagai pengingat bahwa Sayidina Ali bin Abi Thalib adalah tokoh yang paling banyak menggali sumur di kawasan tersebut. Sumur-sumur galian Sayidina Ali sekarang tak ada bekasnya sebab terkubur pembangunan kota dan perluasan masjid itu sendiri.

Masjid Bir Ali Terletak di perbatasan Tanah Haram, tepatnya 11 kilometer dari Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. Di sinilah tempat miqat (berpakaian ihram) bagi jemaah umrah yang akan memasuki Masjidil Haram, Mekah. Miqot dilakukan di luar tanah Haram, di lokasi ini calon jemaah Haji atau umrah akan berganti pakaian ikhram serta berniat Ikhram sebagai salah satu rukun Haji atau Umrah.

Bangunan Masjid Bir Ali tampak seperti benteng yang dilengkapi dengan mercusuar yang menjulang sangat tinggi. Posisinya di tepi jalan Madinah-Mekkah. Bangunan ini berdinding tinggi yang menghadap ke sebuah bukit yang dipisahkan oleh jalan bebas hambatan.
Miqat adalah salah satu rukun haji/umrah yang dilakukan di luar kota Mekah. Saat Miqat, Jemaah melakukan Mandi besar, Memakai Kain Ihram, Niat Ihram. Selanjutnya jemaah yang sudah berniat wajib mematuhi Larangan ihram. Diantaraclarangan ihram antara lain: Berkata kotor, Berselisih, memetik pohon, membunuh hewan buruan, mencukur rambut atau bulu yang ada di tubuh, berhubungan suami istri, dan lain-lain.

Masjid favorit para jamaah umroh ini memiliki menara setinggi 64 meter yang tampak menjulang gagah dari balik rindangnya pepohonan di bawah sebuah lembag. Di zaman Rasulullah lembah tersebut dikenal dengan nama Lembah Aqiq. Lembah yang terletak di perbatasan tanah haram ini merupakan lokasi berdirinya Masjid Bir Ali. Letaknya sekitar 11 kilometer dari Masjid Nabawi dan 9 kilometer dari sisi luar kota Madinah.

Memasuki bagian depan gerbang mata akan terpusat pada menara berbentuk kubah. Serasa sedang memasuki istana kerajaan. Di dalam masjid hati terpesona oleh lorong-lorong di dalam masjid yang jika dipandang langit-langitnya akan membentuk kubah. Tak perlu khawatir kepanasan jika mampir ke masjid ini. Pohon kurma dan tanaman rindang lain siap melindungi para jamaah dari terkinya matahari. Tempat air minum pun disediakan berjejer di dekat pintu masjid sebelah timur dan selatan. Ritual ihram mewajibkan jmaah untuk mandi di miqat.

Di masjid seluas 26 ribu meter persegi ini dilengkapi areal parkir yang luas di bagian depan maupun belakang masjid. Area parkir masjid tersebut mampu menampung setidaknya 80 kendaraan bus besar dan 500 kendaraan kecil seperti bus mini.

Jalan memutar menyebabkan para jamaah bisa melihat masjid dari satu sisi ke sisi lainnya. Tampak pepohonan yang hijau melingkupi lingkungan masjid. Rumput-rumput menghijau dan taman yang indah menjadi daya tarik Masjid Bir Ali. Salah satu tamannya berada di tengah lokasi tempat berdirinya kubah masjid.

Masjid Bir Ali didirikan didekat sebuah pohon yang dulu dijadikan tempat beristirahat Nabi Muhammad SAW. Pohon tersebut merupakan pohon sejenis akasia. Ketika itu Nabi menuju ke Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah. Sekarangpun, setiap jamaah yanga akan melaksanakan ibadah umroh dari arah kota Madinnah Al-Munawarroh selalu berhenti sejenak di tempat yang penuh dengan keindahan ini.

Para jamaah umroh mencontoh keteladanan Nabi Muhammad SAW. Masjid Bir Ali memiliki banyak nama. Disebut Bir Ali ,kata Bir yang berarti dengan banyak sumur karena pada jaman dahulu Syyaidina Ali bin Abi Thalib Ra menggali banyak sumur ditempat ini. Namun karena pembangunan dan perluasan masjid, sumur-sumur yang dibuat oleh Syyaidina Ali bin Abi Thalib Ra sudah tidak Tampak lagi.


Renovasi

Selama sejarahnya Masjid Bir Ali dibangun dengan beberapa kali mengalami renovasi. Terhitung empat kali renovasi besar-besaran dilakukan sejak pemerintahan Gubernur Umar Bin Abdul Aziz. Renovasi pertama dilakukan di masa pemerintahan Umar Abdul Aziz (87 -93 Hijriyah). Renovasi kedua dilaksanakan di masa pemerintahan Zaini Zainuddin Al Istidar di tahun 861 Hijriah (1456 Masehi). Renovasi ketiga dilakukan di zaman Dinasti Utsmaniah dari Turki yang dibantu oleh muslim India di Tahun 1679 msehi atau 1090 Hijriyah. Renovasi terakhir dilakukan di masa pemerintahan King Abdul Aziz yang memerintah Kerajaan Saudi Arabia pada periode 1981 – 2005 Masehi.

Hasil dari renovasi ini menjadikan masjid yang semula kecil dan sederhana berubah menjadi masjid megah dan indah. Hingga saat ini Masjid Bir Ali berdiri di atas lahan lebih dari 60 ribu meter persegi. Keseluruhan areal masjid ini terdiri dari 26000 meter persegi areal bangunan masjid dan sekitar 34 ribu meter persegi berupa paviliun, taman dan lapangan parkir. Para jamaah dapat menikmati beribadah dengan tenang dalam suasana teduh mengagumkan.

bir ali mosque, yang dilakukan di bir ali, arti nama bir ali, masjid bir ali mekah, cara miqat di bir ali, masjid bir ali wikipedia, tempat miqat haji dan umrah

Sumber: 
Read More
Gunung Uhud, Saksi Bisu Para Syuhada Yang Akan Ada di Surga

Gunung Uhud, Saksi Bisu Para Syuhada Yang Akan Ada di Surga

Salah satu wisata religi yang dapat dikunjungi di kota Madinah adalah ke Gunung Uhud. Kunjungan ini dilakukan rombongan MQ travel setelah sebelumnya mengunjungi Masjid Quba.

Lokasi Jabal Uhud berjarak 4 kilometer dari Masjid Nabawi dan gunung ini termasuk yang terbesar di Madinah. Uhud memiliki keliling 19 km dan tinggi 1 km dari permukaan air laut atau 300 m dari permukaan tanah.

(Baca juga: "Sejarah Masjid Quba - Masjid Pertama Dibangun Nabi Muhammad SAW")

Gunung Uhud adalah sebuah gunung di utara Madinah. Gunung ini adalah lokasi pertempuran kedua antara Muslim dan pasukan Mekah. Pertempuran Uhud terjadi pada tanggal 23 Maret 625 Masehi, antara sejumlah kecil komunitas Muslim dari Madinah, tempat di barat laut Jazirah Arab, dengan kekuatan dari Mekah.

Saat rombongan tiba di gunung uhud, di kawasan ini sudah terdapat Masjid, tempat parkir bus dan jalanan yang sudah diaspal. Setelah bus yang kami tunmpangi berhenti di parkiran, rombonagnpun langsung mendekat ke sebuah tempat lapang. Dari sini kita dapat melihat gunung.

Sebelah kiri gunung uhud terdapat bukit yang lebih rendah namun agak panjang, bukit ini disebut bukit 'Aini tempat 50 shuhada yang dipersenjatai dengan panah. Saat terjadinya perang uhud kelimapuluh pasukan panah tersebut menjadi suhada.

Gunung Uhud terbentuk dari batu granit warna merah memanjang dari tenggara ke barat laut dengan panjang tujuh kilometer dan lebar hampir tiga kilometer. Gunung ini adalah gunung terbesar dan tertinggi di Madinah. Di kaki gunung bagian selatan terdapat pemakaman para syuhada, salah satunya adalah Hamzah bin Abdul-Muththalib paman dan saudara sepersusuan Nabi Muhammad SAW.

Jabal Uhud adalah bukit yang dijanjikan di surga. Tak seperti umumnya gunung di Madinah, Jabal Uhud seperti sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung yang lain. Karena itulah penduduk Madinah menyebutnya dengan sebutan Jabal Uhud yang artinya 'bukit menyendiri'. 

Jabal Uhud adalah gunung yang sangat mencintai dan dicintai Nabi Muhammad SAW. Uhud, yang berarti 'penyendiri', setiap tahun diziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian diteruskan oleh para Khalifah setelah Nabi wafat. Kini Jabal Uhud menjadi salah satu tujuan utama ziarah para jemaah haji dan umrah.

Uhud memiliki sejumlah keutamaan. Maka wajar saja jika para jemaah selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke sini. Salah satu keutamaan Gunung Uhud pernah diriwayatkan dalam sebuah hadits.

Anas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah memandang ke Uhud sambil berkata, " Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang sangat mencintai kita, dan kita pun mencintainya," .

Di kawasan gunung ini jemaah antara lain dapat berziarah ke kompleks makam para syuhada, yang di dalamnya ada makam Sayidina Hamzah.

Menariknya, jasad Hamzah yang dimakamkan di sini dikabarkan tetap utuh, abadi dan tidak hancur dimakan tanah.

Selain makam syuhada, tempat bersejarah lain yang ada di kawasan ini adalah Masjid Al-Fash. Di masjid ini Nabi pernah salat zuhur setelah Perang Uhud selesai.

Setelah perang usai dan kaum musyrikin mengundurkan diri kembali ke Mekah, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur terdiri dari beberapa syuhada.

doa di jabal uhud, jabal uhud mengeluarkan air, gunung uhud masuk surga, sejarah gunung uhud, keistimewaan gunung uhud, pengertian jabal uhud, bukit uhud terukir nama nabi muhammad, gunung uhud bergetar,



Read More